Minggu, 21 Maret 2010

Hendri Mulydi sosok yang kontroversial TAPI banyak di puji



Hal menarik sempat terjadi di penghujung laga. Ketika seorang suporter Indonesia masuk ke lapangan sesaat sebelum Merah Putih takluk 1-2 dari Oman di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Rabu (6/1/2010) malam WIB.

Insiden ini terjadi, menjelang pertandingan Kualifikasi Pra Piala Asia 2011 Grup B, antara Indonesia melawan Oman berakhir.

Salah Seorang fans Indonesia yang lolos dari kawalan aparat keamanan Pria berbadan gemuk itu, berlari ke tengah lapangan. Dia mengambil bola dari kaki pemain Oman lalu menggiringnya ke arah gawang Al-Habsi.

Setelah berhasil menendang bola ke ar
ah kiper asal klub Premier League Bolton Waderers itu, orang yang identitasnya belum diketahui itu langsung disergap petugas.

Entah apa yang ada dalam benak orang itu. Namun, insiden ini membuat pertandingan antara Indonesia melawan Oman berhenti sesaat.

Sementara itu, kekalahan dari Oman membuat Indonesia gagal lolos ke Piala Asia 2011 yang berlangsung di Qatar.

.

Ia ikon dan simbol dari segala-segalanya. Ekspresi nyata puncak kekecewaan penggemar sepak bola negeri ini atas terpuruknya prestasi timnas yang seperti tak pernah berakhir. Juga, satire atas memble-nya penampilan Charis Yulianto dan kawan-kawan yang hampir sepanjang 90 menit seperti tengah belajar sepak bola pada Oman. Lihatlah heroisme Hendri memasuki lapangan, berlari-lari melewati hadangan Boaz, merebut bola di depan bangku tim Indonesia, lalu mendribel bola (yang tak kalah hebatnya dibanding Boaz).

Dan ahaiii… berusaha mencetak gol ke gawang Oman yang dijaga klub Liga Primer Inggris, Ali Al-Habsi. Ia seolah ingin mengatakan pada Pelatih Benny Dollo, Charis Yulianto, dan pemain Indonesia lainnya, “Begini lho cara bermain sepak bola.. Setelah bisa merebut dan menguasai bola, serang ke gawang, dan tembaklah tepat ke gawang.” “Indonesian fan shows team how its done,” demikian judul sebuah situs tentang berita unik tersebut .

Kejadian itu telah menyedot perhatian dunia. Berita kemunculan bintang baru sepak bola Indonesia tersebut dalam waktu singkat menyebar ke seluruh pelosok jagat ini, dalam kemasan serius maupun joke. “Frustrated Indonesian fan becomes late sub,” demikian tulis kantor berita Reuters, yang dalam sekejap dikutip berbagai situs terkemuka dunia, seperti BBC,ESPN dan sebagainya. Semua penggemar sepak bola negeri ini (kecuali pengurus PSSI yang khawatir dengan sanksi AFC), saya yakin, mengacungi jempol pada aksi Hendri. Itu yang setidaknya terlihat dari obrolan di sejumlah forum maya jejaring sosial, seperti facebook.

Ada yang menginginkan dan mendukung dia sebagai Ketua Umum PSSI , yang sudah mencapai ribuan suara. Ada pula yang berharap, agar Hendri jadi pemain timnas . Bahkan, ada yang ingin mengangkatnya menjadi Pahlawan Revolusi PSSI , Pahlawan Timnas Garuda , ada juga yang berharap menjadikannya nama kelompok suporter (Hendri Mulyadi Fans Club), dan lain-lain. “Seharusnya dia yang direkrut Benny Dollo masuk timnas. Bagaimana Benny Dollo sampai kecolongan tidak merekrutnya,” demikian saya berseloroh kepada rekan saat berjalan menuju ruang jumpa pers seusai laga.

Selama meliput sepak bola nasional sejak akhir tahun 1990-an, sudah tak terhitung saya menyaksikan masuknya suporter ke tengah lapangan baik saat pertandingan masih berlangsung maupun setelah berakhir. Tawuran antarsuporter, suporter saling lempar batu dan benda-benda keras lainnya, suporter atau ofisial menabok wasit, hingga mereka yang membakar gawang, sudah menjadi menu rutin sepak bola Tanah Air. Di luar negeri, kejadian serupa juga sudah berulang kali terjadi, tetapi biasanya segera diringkus aparat tak lama setelah masuk lapangan.

Namun, sepanjang yang saya tahu, belum ada peristiwa masuknya suporter ke lapangan yang seunik Hendri Mulyadi. Keunikannya, tak lain dan tak bukan, terletak pada kemampuannya menguasai bola, menggiringnya, dan hingga menceploskan tendangan ke gawang. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng pun dengan nada bercanda menyesalkan, kenapa tendangan Hendri tidak sampai berbuah gol setelah ditahan kiper Ali Al-Habsi yang mesam-mesem.

“Mungkin saking dia gregetan, ingin langsung, kok tidak gol-gol, ingin membantu sendiri supaya PSSI bisa menang lewat tendangan kakinya sendiri. Tapi toh tendangan dia juga tidak gol,” kata Bapak Menteri. Bagaimana perasaan Hendri? “Saya kecewa tidak bisa membobol gawang Al Habsi. Tendangan saya memang terlalu lemah karena pakai celana panjang. Kalau pakai celana pendek, mungkin ceritanya akan beda,” tutur Hendri kepada wartawan. “Itu semua bentuk kekecewaan saya terhadap permainan timnas dan PSSI.”

Dan ceritanya mungkin beda juga, Ndri, andaikata tendangan itu berbuah gol dan sempat dilihat Pelatih Arsenal, Arsene Wenger. Mungkin kamu akan direkrut Wenger di bursa jendela transfer Januari ini… Heheheh… Rabu itu, Arsenal seharusnya menjamu Bolton (klub tempat Ali Al-Habsi bergabung) di Liga Primer, tetapi laga itu dibatalkan karena badai salju di Inggris.

Pelatih Oman Claude Le Roy dalam jumpa pers tak mampu menyembunyikan “kekagumannya” atas aksi Hendri. Kekaguman pelatih asal Perancis yang pernah membawa Kamerun juara Afrika 1988 dan melatih Kamerun di Piala Dunia 1998 terletak pada usaha Hendri dalam menggocek bola dan upayanya mencetak gol. “Ini salah satu bentuk fanatisme yang luar biasa warga Indonesia pada sepak bola,” kata Le Roy tersenyum.

Dipantati wartawan Oman

Tanpa ada aksi Hendri, Rabu malam itu bakal menjadi malam yang amat kelam bagi suporter Indonesia. Kami, wartawan yang duduk di tribune media, tidak terhitung berapa kali melontarkan umpatan demi umpatan melihat permainan tim polesan Benny Dollo. Kata-kata “goblok”, “bodoh”, dan sejenisnya berkali-kali menyembur dari mulut. Hanya pada saat kiper Markus Horison mematahkan tembakan-tembakan pemain Oman, mungkin “kosa kata kebun binatang” itu terhenti.

Semua tahu, Indonesia tidak bisa tampil dengan kekuatan tim penuhnya terkait absennya bek Maman Abdurahman, Ismed Sofyan (skorsing), Ricardo Salampessy (cedera). Tetapi, itu seharusnya bukan alasan dari penampilan buruk malam itu. Toh, seperti dikatakan ofisial Oman, tim tamu juga tidak diperkuat sejumlah pemain pilarnya yang bermain di klub-klub Arab di luar Oman. Melihat dua atau tiga kali Boaz menendang dengan kaki kirinya saat mendapat bola, kaki ini seperti ingin menendang meja.

Puncak keterhinaan terjadi saat gelandang Oman, Fawzi Bashir, mencetak gol menit ke-32 dengan sundulan atas umpan tendangan bebas rekannya di depan kotak penalti. Tidak habis pikir melihat bagaimana gol itu tercipta. Soalnya, proses golnya hampir sama persis dengan gol sundulan striker Hassan Al-Housni dari tendangan bebas serupa, yang dianulir wasit karena tidak mengikuti aba-aba. Wartawan Oman yang duduk di deretan bangku terdepan menari-nari kegirangan, sambil menggoyangkan pantatnya, persis di depan wajah.

Harapan itu muncul setelah Boaz menyamakan 1-1, beberapa saat menjelang turun minum. Di awal babak kedua, pemain Indonesia terlihat seperti akan bermain kesetanan: agresif, cepat, mobilitas pemain tinggi, dan tampak haus gol. Eh, itu hanya berlangsung sekitar lima menit. Permainan agresif itu tidak ditopang pertahanan kokoh. Beberapa kali pemain Indonesia membuat blunder. Isnan Ali, Syamsul Chaerudin, dan Boaz dengan mudah bisa dilewati pemain Oman. Klimaksnya, ya gol kedua Oman yang dicetak striker Ismael Al-Ajmi di babak kedua.

Ponaryo Astaman sempat melakukan tindakan berbahaya saat melakukan back pass ke kotak penalti, di saat beberapa pemain Oman tidak jauh dari jantung pertahanan “Merah-Putih” itu. Ponaryo membalas kesalahannya dengan memberi umpan terobosan ke Boaz, tetapi striker Persipura ini kembali gagal melepaskan tendangan. Kekecewaan penonton sulit ditahan memasuki menit ke-80-an. Sebagian dari mereka memilih meninggalkan tribune. Nah, dalam situasi penuh kekesalan itu, datanglah oase penyejuk suasana, yaitu aksi Hendri Mulyadi yang sangat menghibur.


Pantas perkuat timnas

Andaikata, sekali lagi andaikata, Hendri turun sejak babak pertama, skor laga mungkin berbeda. Sekali menendang bola, tembakannya sudah tepat mengarah ke gawang. Istilahnya dalam kamus sepak bola, shoot on goal, salah satu indikator agresivitas dan akurasi gempuran ke gawang lawan. Andaikata Hendri turun agak lama, bisa saja skornya 4-2 untuk Indonesia. Dan Indonesia masih punya peluang saat menjalani laga terakhir lawan Australia di Brisbane, 3 Maret mendatang. Heheheh… (Mimpi kali, yee)

Pada hari yang sama di Kuwait, Australia bermain imbang 2-2 lawan tuan rumah. Hasil ini membuat belum satu pun tim dari Grup B yang lolos ke putaran final di Qatar, 2011. Nasib Australia masih harus ditentukan saat lawan Indonesia meski hasil seri cukup bagi mereka. Laga terakhir itu digelar pada kalender internasional. Pemain-pemain top Australia di klub-klub Eropa hampir bisa dipastikan pulang kampung. Karena itu, siapa pun yang bakal menangani timnas, jangan lupakan Hendri. Bawa dia ke Brisbane agar kembali mengajari bagaimana bermain bola pada skuad “Merah-Putih”.

Indonesia sudah tersingkir. Tetapi, siapa tahu dengan bantuan Hendri, Indonesia bisa membuat kejutan, membuat Australia yang bakal tampil di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan itu tersingkir dari ajang Piala Asia 2011. Bukan demikian, Hendri?

Penggunaan gawang

Dalam dunia sepak bola, penggunaan gawang memang sangat penting. karna gawang adalah sarana yang digunakan untuk menentukan gol atau tidaknya bola yang ditendang atau disundul ke arah gawang . Proses penentuan gol didasarkan pada lewat atau tidaklah bola melalui garis gawang yang ditarik dari 2 tiang gawang tersebut.


Tapi dulu aturan resmi tentang gawang masih belum pasti. Barulah pada konferensi FA pada bulan desember 1882 ada aturan resmi tentang gawang. yaitu tentang definisi gawang. yaitu berupa dua tiang dengan jarak 8 yard yang diatasnya diberi mistar dengan tinggi 8 kaki dari tanah

Tapi dalam aturan itu belum dibahas tentang adanya penggunaan jaring gawang. Hal ini dikarenakan fungsi jaring gawang belum terlalu penting dalam pertandingan. sehingga gawang pada jaman dahulu hanya berupa 2 tiang yang dihubungkan dengan mistar dan tanpa jala atau jaring.

Tapi lama-kelaman gawang yang hanya berupa 2 tiang dan satu mistar ini justru membuat pertandingan sepak bola menjadi kacau dan ricuh. kenapa ? karna jika ada bola yang masuk gawang dengan kecepatan yang sangat cepat, maka kadang si pemain tak dapat menentukan apakah itu gol atau tidak, apalagi jika bola yang masuk gawang itu dilihat dari samping gawang.

Oleh kana itu diperlukanlah suatu alat yang dapat menentukan gol atau tidaknya bola yang masuk gawang. Dan barulah pada tahun 1981 penggunaan jaring gawang mulai digunakan.
( atas usul penduduk birmingham ). Mereka beranggapan bahwa jika bola masuk ke gawang, maka jala akan bergetar , sehingga tidak akan ada kontroversi tentang masuk atau tidaknya bola yang masuk ke gawang dengan kecepatan tinggi.

Jala gawang itu dibuat dan dipatenkan oleh seorang warga liverpool bernama Brodie,Dan jala gawang pertama kali digunakan pada pertandingan tim sepak bola The North vs The South pada januari 1981

Pelatih Baru Timnas sepak bola Indonesia


Misteri mengenai siapa pengganti Benny Dolo sebagai pelatih Timnas sepak bola Indonesia akhirn ya terjawab sudah, PSSI secara resmi telah memilih pelatih baru untuk timnas. Dia adalah Alfred Riedl. Sebelumnya, pria asal Austria itu menangani timnas Laos dan Vietnam. Riedl dipilih untuk menggantikan Benny Dolo.

Kontrak Bendol sejatinya sudah habis Januari lalu. Namun, dia dipertahankan untuk laga terakhir melawan Australia dalam ajang kualifikasi Piala Asia lalu. Ternyata dalam laga pamungkas itu, skuad merah putih kalah 0-1. Kekalahan tersebut melengkapi prestasi buruk indonesia yang sama sekali tidak pernah menang dalam babak kualifikasi. Alhasil indonesia gagal maju ke putaran final piala asia untuk pertama kalinya sejak 1996.

Sekjen PSSI Nugraha Besoes memastikan bahwa Riedl segera dikontrak. “Kesepakatan dilakukan dalam waktu dekat,” katanya di Jakarta (4/3) lalu. Hanya, dia tidak mengungkapkan durasi kontark tersebut. Selain menangani tinmas senior, Riedl juga membesut timnas U-23 Indonesia.

Selain Riedl sebagai pelatih, PSSI akan mencari seorang direktur teknik. PSSI telah mengajukan proposal kepada KNVB (Federasi Sepak Bola Belanda). Hasilnya KNVB menyodorkan nama Jozef Krol. Dia adalah mantan pemaindan kapten timnas Belanda yang sekarang elatih klub afrika selatan, Orlando Pirates.

Sementara itu asisten pribadi Riedl, Pikal Wolfgang, terkejut saat dikonfirmasi terkait kepastian Riedl menjadi pelatih timnas indonesia. “Baru lima menit lalu saya bebicara dengan Riedl, tapi belum ada kepastian kontrak. Saya juga menanti kabar dari PSSI,” katanya.

Sebelumnya, PSSI akan menjanjikan memberi keputusan awal maret, sehingga timnas bisa memulai latihan bulan ini juga. “kalau seperti ini, mungkin timnas baru terbentuk April. Kami harus mengawali dengan seleksi lebih dulu,” ungkap Pikal.



Lepas dari itu, Riedl terbilang pelatih kaya pengalaman. Dia sudah malang melintang bersama banyak klub. Mantan pelatih timnas austria itu juga beberapa kali menangani timnas. Selain Vietnam dan Laos, dia pernah membesut timnas Palestina dan Liechnstein.

Berikut adalah karir kepelatihan Riedl

Austria (90-91)
O. Khouribga (93-94)
AL Zemalek (94-95)
Liechnstein (97-98)
Vietnam (2003-2004)
Palestina (2004-2005)
Vietnam (2005-2007)
XI Mang Hao Pong (2008-2009)
Laos (2009)
Indonesia (2010-....?)


http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3535861

Asal Mula dan Arti kata "Jancok"

Bagi kalian yang orang jawa timur, pasti sudah tak asing lagi dengan kata jancok, kata ini sangat terkenal di jawa timur, Bahkan orang-orang di jawa tengah dan jawa barat pun sering mengucapkan kata ini. Lantas apa sebenarnya arti kata Jancok dan bagaimana asal mulanya bisa terbentuk kata ini.

Jancok atau dancok adalah sebuah kata khas Surabaya yang telah banyak tersebar hingga meluas ke seantero Indonesia bahkan sudah mendunia. Warga Jawa Timur seperti Surabaya, Malang dll turut andil dalam penyebaran kata ini.



Jancok berasal dari kata 'encuk' yang memiliki padanan kata bersetubuh atau fuck dalam bahasa Inggris. Berasal dari frase 'di-encuk' menjadi 'diancok' lalu 'dancok' hingga akhirnya menjadi kata 'jancok'.

Ada banyak varian kata jancok, semisal jancuk, dancuk, dancok, damput, dampot, diancuk, diamput, diampot, diancok, mbokne ancuk (=motherfucker), jangkrik, jambu, jancik, hancurit, hancik, hancuk, hancok, dll. Kata jangkrik, jambu adalah salah satu contoh bentuk kata yang lebih halus dari kata jancok.

Makna asli kata tersebut sesuai dengan asal katanya yakni 'encuk' lebih mengarah ke kata kotor bila kita melihatnya secara umum. Normalnya, kata tersebut dipakai untuk menjadi kata umpatan pada saat emosi meledak, marah atau untuk membenci dan mengumpat seseorang.

Namun, sejalan dengan perkembangan pemakaian kata tersebut, makna kata jancok dan kawan-kawannya meluas hingga menjadi kata simbol keakraban dan persahabatan khas (sebagian) arek-arek Suroboyo.

Kata-kata ini bila digunakan dalam situasi penuh keakraban, akan menjadi pengganti kata panggil atau kata ganti orang. Misalnya, "Yoopo kabarmu, cuk", "Jancok sik urip ae koen, cuk?". Serta orang yang diajak bicara tersebut seharusnya tidak marah, karena percakapan tersebut diselingi dengan canda tawa penuh keakraban dan berjabat tangan dong... Hehehehe....

Kata jancok juga bisa menjadi kata penegasan keheranan atau komentar terhadap satu hal. Misalnya "Jancok! Ayune arek wedok iku, cuk!", "Jancuk ayune, rek!", "Jancuk eleke, rek", dll. Kalimat tersebut cocok dipakai bila melihat sesosok wanita cantik yang tiba-tiba melintas dihadapan. Hehe...

Akhiran 'cok' atau 'cuk' bisa menjadi kata seru dan kata sambung bila penuturnya kerap menggunakan kata jancok dalam kehidupan sehari-hari. "Wis mangan tah cuk. Iyo cuk, aku kaet wingi lak durung mangan yo cuk. Luwe cuk.". Atau "Jancuk, maine Arsenal mambengi uelek cuk. Pemaine kartu merah siji cuk.

dan memang, kata ini sangat enak diucapkan, sampai sampai saya ketagihan mengucapkan kata ini, walaupun arti yang saya tekankan bukanlah arti kotor, tapi hanya sekedar kata pemanggilan saja, dan ternyata di pergaulan sekolah saya kata itu sudah biasa


anangku.blogspot.com

AREMA dan AREMANIA

PS Arema didirikan pada tanggal 11 Agustus 1987 oleh H. Acub Zaenal dan Ir. Lucky Zaenal. Dari awalnya Arema klub swasta. Pada waktu Arema berdiri Liga Indonesia dibagi dua: liga untuk klub semi-profesional bernama Galatama dan Liga klub Perserikatan. Klub-klub Perserikatan tergantung pada pemerintah daerah untuk dana. Sementara klub Galatama tergantung pada sponsor swasta. Walaupun Arema belum pernah juara selama zaman Ligina, Arema juara Galatama pada tahun 1993. Pada tahun 1994 klub semi-profesional digabungkan dengan klub Perserikatan untuk menjadi Ligina.
Pada tahun 1988 yayasan Arema Fans Club (AFC) berdiri. Ketua pertamanya adalah Ir. Lucky Zaenal. Pada awalnya ada 13 korwil. Setiap korwil adalah pengurus hal suporter Arema di sebuah kampung atau daerah di Malang.

Di artikel “Aremania Junjung Sportivitas” diterbitkan di Bestari, no.156, 2001 diceritakan bahwa menurut suporter Arema, AFC itu sangat individual, yaitu berkaitan dengan hubungan antara suporter dengan suporter lain. Akibatnya AFC terhadap kesulitan mendorong kerukunan suporter. AFC pernah dianggap sebagai yayasan yang terlalu ekslusif maupun kelas menengah untuk diterima oleh kebanyakan suporter Arema.
Sekitar tahun 1994 AFC dibubarkan. Menurut Lucky Zaenal itu karena banyak kesibukan dan soal generasi. Walaupun keadaan tokoh-tokoh AFC pasti mempengaruhi keruntuhan AFC, harus ditanyakan mengapa AFC tidak diteruskan oleh kelompok atau orang baru. Mungin itu tidak terjadi karena sudah jelas bahwa AFC tidak didukung oleh suporter. Barangkali tokoh-tokoh AFC sadar pada fakta itu. Makanya mantan-tokoh AFC langsung terlibat dalam proses mengembangkan nama dan simbol yang akan mempersatukan suporter. Memang tidak semua inisiatif AFC gagal. Harus diingatkan bahwa dengan AFC mulai sistem organisasi suporter yang berdasarkan pada korwil. Korwil-korwil tidak hilang dengan kematian AFC tetapi jumlahnya bertambah. Di samping itu AFC berdiri dalam konteks keras yaitu pada waktu geng-geng pemuda Malang merupakan para suporter Arema.

Brutalisme ke Hooliganisme
Ada dua istilah yang dipakai untuk menggambarkan suporter yang tidak sportif dan membuat kerusuhan: suporter brutal dan hooligan. Artinya dua istilah hampir sama. Perbedaan antara dua istilah itu hanya soal konteks. Istilah hooligan itu berasal di luar konteks Indonesia dan bersifat perbandingan. Istilah suporter brutal lebih sering dipakai dalam konteks Indonesia. Hooligan sama dengan suporter brutal karena yang jelas kegiatannya berdasarkan pada egoisme buruk. Seorang hooligan mau membuat kerusuhan dan kekerasan untuk membesarkan egonya. Seorang hooligan tidak ikut pertandingan untuk menikmati sepak bola tetapi untuk membuat kericuhan. Seorang Hooligan adalah musuh perkembangan sepak bola apalagi komunitas suporter murni. Akhirnya kalau memakai contoh suporter brutal Arema kelihatannya perbedaan antara dua istilah hanya soal konteks.
Suporter Arema menjadi terkenal atas brutalisme antara waktu Arema berdiri dan pertengahan tahun 1990-an. Ada kekerasan antara suporter walaupun Arema menang atau kalah. Pada waktu itu beberapa geng pemuda merupakan para suporter Arema. Setiap kampung memiliki geng sendiri. Yang berikutnya adalah daftar nama geng-geng Malang sama tempat asalnya kalau ada.

Nama Geng Tempat Asal
Aregrek Sekitar Jl. Basuki Rachmat
Arnak (Armada Nakal) Sukun
Anker (Anak Keras) Jodipan
Argom (Armada Gombal) Kidul Dalem
Arpanja (Arek Panjaitan) Betek
Fanhalen (Federasi Anak Nakal Halangan) Claket
SAS (Sarang Anak Setan)
Geng Inggris Kasin Jrot
Ermera
Saga (Sumbersari Anak Ganas)
Geng-geng ini membuat suasana menakutkan di stadion. Tempat pertandingan menjadi kesempatan untuk geng-geng tersebut membuktikan siapa yang paling keras. Persaingan keras antara geng-geng terjadi walaupun semuanya medukung Arema. Jadi semua upaya untuk membuat suporter Arema rukun dan kompak dihalangi. Tawuran terjadi antara suporter Malang dan suporter dari luar tetapi juga di antara para suporter Arema sendiri. Bentrokan tidak terjadi karena provokasi tetapi disebab oleh suasana brutalisme ditimbulkan suporter Malang. Masih diingatkan oleh suporter Arema (dengan malu) bahwa suporter Malang brutal sebelum suporter Surabaya menjadi brutal. Akhinrya, waktu antara 1987 dan pertengahan tahun 1990-an suporter Arema membuktikan bahwa mereka bisa mengimbangi egoisme Hooligan Inggris. Suporter Malang menjadi terkenal sebagai Hooligan Indonesia. Sering selama akhir 1980-an dan awal 1990-an sering ada tawuran antara suporter Surabaya dan Malang. Sayangnya persaingan keras itu antara Bonek dan suporter Arema sulit dibatasi. Di Surabaya orang dari Malang diganggu dan kendaraan yang berplat N (plat Malang) dirusak.
Sementara di Malang kendaraan yang berplat L (plat Surabaya) mengalami hal yang serupa. Pada tahun 1992 ada semacam `sweeping’ menghadapi orang yang berKTP Surabaya. Polisi terpaksa melakukan operasi untuk menghentikan aski brutal itu. Akhirnya permusuhan berkembang antara orang kedua kota Jawa Timur tersebut melainkan antara suporter saja. Lagipula Bonek nama suporter Surabaya menjadi istilah berarti hooligan Indonesia. Jadi kata bonek yaitu yang tidak pakai huruf besar artinya hooligan walaupun Bonek itu berarti suporter Surabaya. Karena persaingan keras itu sering Aremania dan Bonek dianggap sama saja. Khususnya di luar Malang banyak orang yang bersikap bahwa Aremania adalah bonek juga. Banyak orang tidak membedakan antaranya. Selama tahun-tahun itu masyarakat Malang tutup jendela dan mengunci pintu kalau ada pertandingan Arema. Sekarang suporter Arema telah benar-benar maju tetapi terhadap peringatan masyarakat yang menganggap bahwa mereka masih brutal.


Aremania muncul
Pada pertengahan tahun 1990-an geng-geng Malang mulai luntur. Sementara itu istilah Aremania muncul sebagai nama para suporter Arema. Sebetulnya dua fenomena tersebut merupakan perubahan total dalam budaya pemuda Malang yang dikatalisasikan oleh beberapa tokoh. Di artikel `Aremania Mengukir Sejarah Baru’ diterbitkan di Bestari, no. 156, 2001 Gus Nul mantan pelatih Arema menceritakan bahwa walaupun kurang jelas dari mana istilah Aremania itu muncul, nama itu mempersatukan suporter Arema. Secara psichologis persamaan dasar antara Arema dan Aremania membuat suporter merasa bersatu. Kata Aremania bisa dibagi Arema dan Mania. Aremania itu muncul secara spontan dari suporter Malang yang mulai bosan dengan perkelahian geng-geng tersebut. Ada beberapa alasan untuk perubahan itu. Pertama-tama geng-geng mulai luntur karena soal generasi. Anggota geng walaupun masih muda selama akhir 1980-an, di pertengahan 1990-an lebih dewasa. Karena sudah lumayan tua mulai bosan dengan kegiatan geng.
Di samping itu, pada 1994 Ligina yang pertama dimulai dan PSSI mulai mendorong sepak bola Indonesia menjadi lebih profesional. Pemain asing mulai main untuk klub Indonesia. Itu termasuk upaya untuk menaikkan kualitas liga sepak bola. Pemain asing pernah main untuk Arema. Pernah ada pemain dari Afrika, Amerika Selatan, Korea Selatan dan juga Australia. Dari semua ini yang paling terkenal ada pemain dari Negara Chile bernama Rodriguez `Paco’ Rubio. Sekarang menurut suporter Malang dia semacam pahlawan sepak bola Arema. `Paco’ Rubio menembus gol lawan selama putaran Delapan Besar Ligina VI. Di samping itu, selama Ligina VII ada pemain dari Afrika namanya Frank Bob Manuel yang dengan sayang dipanggil `Bobby’ (selama Ligina VIII main untuk klub perserikatan Malang Persema). Selama Ligina VIII Jaime Rojas (mantan pemain Persema) juga berasal dari Chile masuk klub.
Dengan berupaya ke profesionalisme suporter mulai lebih tertarik pada permainan khususnya karena impor pemain luar negeri. Juga ada pemain lokal yang menjadi bintang. Misalnya Ahmad Junaedi selama Ligina VI tetapi setelah itu dia pindah ke Persebaya dan menjadi musuh suporter fanatik. Akhirnya mau kembali ke Arema dia ditolak oleh pengurus Arema. Daripada membeli Junaedi lagi mereka memilih mendidik pemain muda berasal dari Jawa Tengah bernama Johan Prasetyo. Johan Prasetyo telah menjadi bintang Aremaa. Selain Prasetyo ada Aji Santoso, pemain yang berpengalaman itu pernah main untuk timnas Indonesia. Karirnya setelah di Arema ke Persebaya dan kemudian ke PSM Makassar. Akhirnya main untuk Persema sebelum main di Arema lagi.
Dengan impor pemain asing dan perhatian pada pemain profesional orang Indonesia, yang berkembang antara para suporter Indonesia adalah minat pada sepak bola bukan fanatisme terhadap klub saja. Di artikel `Suporter Bergeser Jadi Football Minded’ diterbitkan di Jawa Pos 9 Maret 2002 perubahan sikap suporter digambarkan. Ternyata bahwa para penonton mulai memilih menonton pertandingan menurut suguhan kualitas sepak bolanya. Yaitu penonton mulai memilih pertandingan dengan lawan kualitas sepak bola tinggi. Barangkali suporter Indonesia dipengaruhi tayangan sepak bola dari luar negeri. Suporter mulai menuntut kualitas dari sepak bola Liga Indonesia.
Di samping itu perubahan suporter Malang didorong beberapa tokoh perintis Aremania. Sebenarnya munculnya generasi geng dapat dicegah karena upaya tokoh Aremania. Di artikel `Aremania Sebuah Gerakan Rakyat’ diterbitkan di Kompas, 1 April 2002 diceritakan bahwa suporter didorong oleh tokoh seperti Ovan Tobing, Lucky Zaenal, Iwan Kurniawan, Eko Subekti dan Leo Kailolo untuk menjadi suporter bersatu dan sportif. Pasti mereka sadar bahwa suporter brutal akan merugikan PS Arema, dan kalau klub Arema akan berusaha ke profesionalisme seharusnya suporter juga. Tokoh yang tersebut membantu membangun simbol klub Arema yang telah menjadi simbol suporter juga. Di artikel `Aremania junjung sportivitas’ diterbitkan di Bestari, no 156 2001 bahwa tokoh perintis ini mengusulkan Aremania dijuluki `Macan Putih’ atau `Singa Putih’ karena Arema berdiri pada 11 Agustus yang termasuk zodiak Leo. Kemudian secara spontan ada orang antaranya yang teriak `edan’. Mungkin itu mucul dari bagian belakang istilah Aremania yaitu `mania’. Kata `mania’ berarti edan.
Dari latar belakang nama Aremania dan simbol Singo Edan semacam bahasa Malang berkembang. Kata-kata bahasa Indonesia dan bahasa Jawa terbalik merupakan bahasa Malang atau fenomena Ngalamania. Misalnya Singo Edan menjadi Ongis Nade dan Orang Malang menjadi Genaro Ngalam. Di samping itu arek-arek Malang menjadi Kera-kera Ngalam. Surat kabar Radar Malang itu Jawa Pos-nya Kera Ngalam. Sekitar pertengahan tahun 1990-an suporter Arema mulai berubah. Citra negatif terhadap suporter Arema ada sampai sekarang tetapi selama beberapa tahun yang lalu Aremania pernah diakui sebagai suporter Indonesia terbaik.
Pada waktu ribuan suporter ke Jakarta untuk putaran Delapan Besar Ligina VI Ketua Umum PSSI Agum Gumelar terkesan oleh penampilan suporter Arema di Stadion Senayan. Dia mengakui Aremania sebagai suporter kreatif, sportif dan atraktif. Di samping itu PSSI pernah mengundang Yuli Sugianto (dirigen suporter Arema) untuk mewakili suporter Indonesia. Selama Ligina VII sering diakui oleh suporter klub lain sebagai guru suporter lain. Pada Januari tahun 2001 di Tangerang, suporter mengucapkan selamat datang kepada Aremania dan sesudah ada insiden lemparan terhadap Aremania mereka mengucapkan termima kasih karena Aremania tidak terpancing oleh oknum provokator Tangerang. Pada Juli tahun itu diakui oleh suporter Solo sebagai `guru hebat’.
Lagipula kemajuan Aremania mempengaruhi keadaan di Malang. Selama waktu krismon, Malang tenang walaupun dimana-mana di Jawa telah kacau. Itu karena pemuda Malang telah merasa bersatu sebagai Aremania dan tidak ingin membuat kerusuhan di kotanya. Katanya ada suporter Solo yang mengirim sepasang bh dan celana dalam perempuan ke Aremania agar mengucapkan Aremania para penakut. Namun Aremania tidak mudah dipancing. Yang jelas dalam lingkungan suporter sepak bola telah dianggap maju dari masa dulunya. Lagipula mereka dianggap perintis suporter di Indonesia. Namun proses ini mulai lebih dari 5 tahun yang lalu dan Aremania sampai tahun 2001 berjuang untuk menghapus sisa-sisa brutalisme.
Sisa-sia Brutalisme
Aremania tidak langsung berhasil dalam perjuangan untuk menghapus citra suporter brutal. Sampai tahun 1999 ada bentrokan antara suporter di Malang tetapi khususnya dengan Bonek. Keadaan kacau hampir tidak bisa dicegah aparat keamanan. Persaingan keras antara suporter Malang dan Surabaya terjadi selama ada kesempatan Arema melawan Persebaya. Akibatnya di Malang suporter Surabaya harus dilarang masuk Malang supaya mencegah insiden yang tidak diinginkan.
Pengurus Arema pernah minta pertandingan Arema versus Persebaya diadakan di luar Malang agar tidak ada tawuran. Namun ini diprotes Aremania yang menuntut bahwa pertandingan Arema tetap milik masyarakat Malang. Namun tahun-tahun tersebut harus dibedakan dari zaman geng-geng. Mungkin tahun-tahun yang berikut kelunturan geng-geng Malang bisa dianggap sebagai waktu peralihan. Sampai tahun 2001 ada insiden yang terjadi di luar Malang. Salah satu contoh konflik antara suporter Malang dan Surabaya adalah tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei tahun 2001.
Tragedi Sidoarjo
Pada Ligina VII Aremania mendukung tim kesayangannya di pertandingan away. Arema melawan Gelora Putra Delta (GPD) di Sidoarjo. Soalnya tiga kelompok suporter mucul di stadion Delta: Deltamania, Aremania dan Bonek. Karena jarak antara Surabaya dan Sidoarjo jumlah sedikit suporter Surabaya datang untuk menjenkelkan suporter Arema. Tiga kelompok ini dibagi supaya tidak ada bentrokan. Aremani menempati sektor utara sementara Bonek dan Deltamania ada di tribun VIP. Pertama-tama sebelum pertandingan mulai sekitar jam 14. 15 ada lemparan batu dari luar stadion. Dua suporter Arema terluka dan Aremania menuntut bahwa tempat di luar stadion khususnya sekitar sektor utara diamankan. Di samping itu Aremania dimarahkan kabar bahwa dua mobil Aremania dirusak. Pada jam 15.10 lemparan batu antara sektor utara dan tribun timur mulai. Polisi terhadap kesulitan membatasi lemparan karena Bonek dapat sumber batu dari luar stadion.
Pada jam 16.00 pertandingan sepak bola dimulai. Pada jam 16.20 aparat keamanan megeluarkan tembakan peringatan untuk menghentikan lemparan. Pada menit ke-29 pertandingan harus dihentikan karena suporter masuk lapangan dan kerusuhan mulai terjadi di luar stadion. Aremania harus dievakuasi oleh aparat keamanan. Akhirnya 15 orang terluka, 7 mobil dan 2 sepeda motor dirusak. Juga stadion Delta dihancur dari aksi lemparan dan bentrokan yang berikutnya. Reaksi Aremania penuh dengan kesedihan terhadap tragedi Sidoarjo. Para suporter Arema merasa mereka salah dipersalahkan untuk tragedi Sidoarjo walaupun Bonek adalah provokator. Pak Marheis salah satu korwil Aremania yang dianggap oleh sebagian suporter sebagai tokoh yang memperbolehkan ketertiban antara korwil-korwil tidak bisa menahan tangisnya setelah insiden Sidoarjo.
Ovan Tobing seorang perintis Aremania setelah tragedi itu berpendapat bahwa tragedi di Sidoarjo merupakan pelajaran untuk PSSI. Pada waktu Arema main di Malang Aremania membawa spanduk yang protes disalah untuk kejadian di Sidoarjo. Sayangnya bahwa insiden seperti itu menegaskan citra Aremania sebagai suporter brutal karena dalam insiden itu Aremania sebetulnya di kedudukan sulit. Pertama-tama mereka dilempari dari luar stadion. Lagipula mereka terhadap Bonek yang siap dengan sumber batu dari luar stadion.
Aremania diserang di Jogja: Selain masalah Bonek ada kelompok lain yang iri pada Aremania jadi mencoba memancingnya. Pada bulan Oktober tahun 2001 Aremania diundang ke pertadingan di Jogjakarta. Di Jogja Aremania diserang. Seperti di Sidoarjo ada lemparan batu dari luar stadion. Aremania terpaksa masuk lapangan untuk menghindari lemparan dari luar stadion. Pertandingan dihentikan dan harus dimain hari berikutnya di tempat yang dirahasiakan. Slemania, para suporter Jogja pada umumnya sangat malu pada penyerangan itu. Mereka mulai menyanyi dengan gaya Aremania:
“Maaf?maaf?maaf Aremania
Maafkan kami atas kejadian ini”
Pada umumnya ada persahabatan antara Aremania dan para suporter lain tetapi kadang-kadang ada oknum kelompok yang mencoba memancing Aremania. Dan jarang Aremania terpancing dengan mudah. Selama Ligina VIII tidak ada masalah bentrokan kalau suporter lain datang ke Malang. Aremania membuktikan bahwa telah sportif. Suporter apalagi pemain saja butuh sportivitas.
Setelah kejadian seperti di Jogja Aremania janji mereka tidak akan membalas dendam kalau suporter Sleman datang ke Malang. Korwil Cilewung juga mendorong Aremania untuk tidak membalas dendam Bonek. Dia sadar bahwa kalau membalas dendam pasti tidak akan dibedakan dari Bonek. Harus diakui walaupun lama berjuang dengan sisa-sisa brutalisme Aremania telah agak berhasil dalam tugasnya.
Suporter Arema bersemangat kepada tim kesayangannya tetapi juga kepada negara Republik Indonesia. Dengan kompak suporter Arema sebelum permulaian pertandingan menyanyi lagu nasionalis `Padamu Negeri’. Lagu itu dinyanyi suporter dengan bangga. Nasionalisme merupakan salah satu aspek dasar suporter Arema.

Aremania mendukung Arema tetapi akhirnya semua maupun suporter tim lawan bersaudara. Malang aman karena persaudaraan itu. Lagipula Malang lepas daripada masalah pertentangan kesukuan atau konflik agama yang timbul di mana-mana di Indonesia. Aremania berpendapat bahwa kalau Malang bisa begitu rukun, mengapa negara Indonesia belum bisa seperti itu? Yang jelas persatuan Aremania muncul secara alami dan karena itu ada sikap positif terhadap persatuan negara Indonesia


sekedar-tahu.blogspot.com